tiap malam jumat
Lampu di dalam rumah sudah gelap waktu mobil APV kopisusu yang aku kendarai dari Bogor mendarat di depan pagar..suasana sekeliling rumah sunyi sepi. Jam sudah menunjukkan pukul 12 kurang. Langit sedang berawan dan udara bernyamuk terasa cukup sejuk untuk ukuran Jakarta yang panas.
Pintu dibuka sama penjaga rumah."Ibu sudah tidur, Ndi?" tanyaku dengan nada lelah sama Andi, si penjaga itu."Sudah tidur mas, dari tadi.".Aku mengangguk. Aku berpikir,"aman nih, bisa masuk ke kamar dan segera tidur!".
Aku buka pintu masuk ruang tengah pelan-pelan. Krikk..kruikkk…berderit sedikit. Aku sedikit memicingkan mata dan menggigit bibir karena cemas mengganggu kesunyian rumah menjelang tengah malam. Ruang tengah sekaligus ruang makan nampak temaram.
Tumit diangkat..tiktiktiktiktiktik…berjalan berjingkat-jingkat melewati ruang makan menuju tangga ke lantai dua.Kamarku ada di sana.
Aku menengok sebentar ke tudung saji putih centil di meja makan. Tampaknya makan malam di dalamnya sudah melambai-lambai menunggu disantap.
Rasa penasaran membuat aku berjingkat-jingkat membuka tudung saji."Ibu masak apa ya malam ini?".
Aku buka tudung saji pelan-pelan….
GRUDAK!!
pintu kamar Ibu di seberang meja makan terbuka…
halah halah. Aku sedikit meloncat. Jantung dag dig dug karena terkejut.
"Ibu…bikin kaget!" kataku sambil menyambut Ibu. Ibu tersenyum.
Aku sungkem tangannya, peluk dan cium pipinya.Dalam hati,"yahhh…gagal deh.."
Rambut Ibu kelihatan kusut. Wajahnya bersungut-sungut kelihatan baru bangun tidur.
"Kok datang ngga bilang-bilang?" tanya Ibu dengan wajah ngantuk.
"Takut ngganggu, Bu," jawabku.
"Udah makan belum?" tanya Ibu sambil membuka tudung saji.
"Ibu cuma masak ini," kata Ibu sambil menunjuk sayur sop dan tempe.
Ibu duduk di depan meja makan sambil membuka tudung saji. Itu pertanda aku harus ambil piring untuk makan malam menemani Ibu cerita.
Dalam hati sebenarnya cape sekali. Tapi aku tahu Ibu membela-belain buat bangun untuk ketemu aku pasti ada sesuatu yang pengen disampaikan.
"Iya, Ivin makan sedikit ya aja, Bu..sudah cape" kataku sembari mengisi piring dengan nasi panas dari rice cooker.
Aku temani Ibu (padahal Ibu juga yang temani aku makan) sembari mendengar curhat Ibu tentang Bapak dan keluarga.
Ini sudah jadi ‘tradisi’ setiap malam aku datang dari Bandung atau Bogor. Sebetulnya aku sendiri cape badan setiap kali sampai di rumah.
Tapi aku tahu Ibu sudah cukup lelah menahan beban masalah keluarga. Di rumah Jakarta, tinggal Bapak, Ibu dan pembantu saja. Aku datang tiap pertengahan minggu dengan kegiatan penuh dari pagi sampai malam larut. Adik-adik dan kakak-kakakku bermukim di berbagai kota. Satu-satunya yang rutin mengunjungi ya cuma aku.
Aku makin bisa memahami bagaimana sepinya orangtua ditinggal anak-anaknya yang udah beranjak dewasa. Aku sendiri suka kasihan melihat Ibu yang sering sendirian karena Bapak juga wira-wiri dengan pekerjaannya.
Berdosa ngga ya aku setiap malam jingkat-jingkat masuk rumah supaya bisa masuk kamar dan langsung tidur.
Tapi yang perlu tahu, ….80 persen usahaku selalu gagal karena insting Ibu selalu kuat untuk tahu anaknya sudah datang atau belum..bahkan waktu aku sudah berada di dalam kamar sekalipun. HEHEHEH
Mungkin ini salah satu bentuk bakti aku sama Ibu untuk menemani dan mendengar, seperti yang selalu Ibu lakukan waktu aku kecil sampai kuliah…
In-DaH said,
February 17, 2008 @ 6:04 pm
Feeling orang tua..
Apalagi ibu..
Pasti kuat banget..
Meskipun kita gak mw cerita dan nutup2in..
Tapi Beliau tau bagaimana perasaan kita..
That’s why..
Pelukan dan genggaman tangannya slalu bikin kita nyaman dan kangen..
Nikmati saja curhatan tengah malam darinya..
Kelak kau akan sangat merindukannya..
Yofi said,
March 18, 2008 @ 9:43 am
jadi pengen pulang..
smoga akang dikasi kekuatan dan kesabaran dalam menjalani aktivitas2 nya. amin..
Tri Adi said,
May 18, 2008 @ 7:14 pm
Hallo apa khabar.
Lama ya waktu memutus kabar kita.
Ibu? …..mmmm…… sabar dan ikhlas untuk beliau adalah surga kecil tertinggi dalam hidup kita.Begitupun sebaliknya.Salam sambung dan kangenku untuk beliau ya.