A beautiful Eid Mubarak

Kereta Lodaya siang dari Bandung menuju Yogyakarta, menembus sawah-sawah yang menguning dan kadang mengering di dataran rendah Kebumen, Jawa Tengah.Pohon kelapa berjajar rapat membentuk pulau-pulau nyiur di tengah hamparan keemasan padi di akhir musim kemarau, tertimpa sinar matahari sore. Langit berawan putih cerah berlatar langit biru terang.
Aku di tepi kaca kereta dari kursi no 13A, memandang takjub keluar jendela.Memegang buku non-fiksi tentang Imam Mahdi, buku menarik yang sudah setengah aku baca itu gak mampu memaksa aku untuk kembali menelusuri kajian di dalamnya.
Pemandangan di luar akan keliahatan biasa kalau aku gak melihat iringan sepeda motor maha banyak yang menyusuri jalan-jalan rindang. Bersusulan dan berkejar-kejaran timbul tenggelam di antara pohon-pohon, sawah-sawah dan rumah-rumah khas pedesaan Jawa. Hari itu hari Kamis, 2 hari sebelum Idul Fitri 2007.
Dari jauh kelihatan kalau motor-motor pemudik itu membawa beban berat: penumpang yang melebihi kapasitas duduk atau  barang bawaan yang melebihi kapasitas daya angkut. Kadang lucu dan mengkhawatirkan. Beberapa kali rombongan itu melintas sejajar kereta, menjauh dan kadang bersimpangan dengan Lodaya yang melenggang dengan mulus memecah sawah, desa dan dataran rendah Jawa Selatan.
Hatiku tergetar, membayangkan tujuan pengendara ‘motor gila’ itu bersusah payah kembali ke tempat asal mereka di berbagai pelosok Jawa Tengah dan bahkan Jawa TImur.Menempuh ratusan kilometer dari Jakarta, menembus kemacetan luar biasa dan melelahkan mereka punya satu tujuan: kembali berkumpul bersama keluarga merayakan Idul Fitri.
Aku tahu dan bisa ikut merasakan kerinduan untuk berkumpul dengan keluarga, orang-orang terdekat dan disayangi itu, karena aku bertujuan sama dengan mereka.
Meskipun cara dan sarana menuju ke sana berbeda, tapi sekali lagi:tujuan sama.

Kereta berhenti di YOgya. Aku turun dan dijemput Dede,adekku, yang sudah berletih-letih nyetir dari Surabaya menuju Magelang via YOgya. Menyusuri jalan ke Magelang lewat maghrib, beberapa masjid sudah mengumandangkan takbir. Beberapa merayakan lebaran Jumat, tapi keluarga besar Yangkung sepakat ikut pemerintah merayakan hari Sabtu. Semakin mendekat ke Magelang, semua bayang-bayang indah muncul saat melewati tempat-tempat aku melewati masa kecil yang tidak banyak berubah.

Shalat Idul Fitri di Masjid Jami’ Magelang juga selalu meninggalkan kenangan. Mendengar khutbah yang selalu menarik aku simak, beduk besar yang dipukul selesai shalat, berdesak-desakan keluar di tengah hamparan koran bekas dan wajah-wajah tersenyum bahagia.Dan yang paling aku suka, menuruni jalan samping Masjid ke parkiran mobil di tepi rumah-rumah tua khas Magelang dengan pemandangan di kejauhan sawah-sawah menguning di kaki Gunung Sumbing. Selalu tampak jelas  waktu pagi sesudah  shalat Ied. Aku nggak pernah bosan memandang dan menghirup angin pagi dari arah sawah itu setiap selesai shalat Ied.

Tahun lalu momen Idul Fitri-ku terlewatkan karena aku menuntaskan kewajiban bersama BMS ke berbagai negara. Tahun ini meskipun waktunya sempit momen Idul Fitri ngga mungkin aku lewatkan, biarpun dengan sangat menyesal aku ga bisa menikmati bersama Yangti yang meninggal bulan Juni lalu.
Hari pertama selalu diisi dengan tangis-tangisan apalagi ini adalah tahun pertama kami berkumpul tanpa Yangti tercinta. Setelah shalat Ied, kami sekeluarga menuju pasarean di bukit di Blabak, berziarah di makam Yangti ber-yasin dan memanjatkan doa sama-sama untuk Yangti. Suram dan sedih karena semua pada nangis.
Di acara sungkeman di rumah Yangkung setelah dari pasarean, aku sempat taruhan dan bisik-bisik bikin sayembara sama sepupu-sepupuku,"siapa yang bisa tahan ga nangis waktu sungkeman dengan semua bakal dapat hadiah dari Bang Ivin!". Pemenangnya adalah…bukan aku! karena aku ngga tahan untuk nggak nangis minta maaf apalagi udah berhadapan dan bersimpuh di lutut Ibu (tahu sendiri kan). Dua orang sepupuku yang paling tidak berperasaan berhak atas 2 kaleng Pringles dari aku.
"makasih Bang Ivin," kata mereka dengan wajah sedikit kecewa.Heheheh…
Hari kedua lebaran diisi dengan berkumpul ke keluarga lebih besar dari pihak Yangkung di Blabak, luar kota Magelang untuk mengenal dan bersilaturahmi dengan saudara-saudara Yangkung yang alhamdulillah masih banyak dan masih sehat-sehat meskipun sudah uzur.

Malam terakhir di hari lebaran kedua, aku asyik mendengar cerita-cerita dari Yangkung di ruang tengah keluarga. Aku dan sepupu-sepupu duduk di lantai alas tikar, berapat-rapat tidur-tiduran sambil nyimak Yangkung yang duduk di sofa empuk. Ceritanya tentang masa kecil Ibu dan tante-tante waktu kejadian G30S/PKI juga cerita perjuangan yangkung menghadapi situasi mencekam selama zaman PKI. Ditimpali cerita-cerita dari tante-tante (tentu dalam bahasa JAWA!) aku dan sepupu-sepupu cukup tercekam dan bisa ikut merasakan situasi waktu itu.

Sayang aku ngga bisa berlama-lama menikmati suasana kekeluargaan yang jarang aku dapat selama di Bandung atau Jakarta (sibuk mulu!). Besoknya (hari ini aku nulis) aku udah harus ada di Bandung untuk latihan persiapan Musicanova ke Korea.
Huhuhu…

Hmmm…Idul Fitri buatku selalu menjadi momen yang menggetarkan dan
mengharukan.Terlepas dari nilai-nilai sakral agama, tradisi mudik
seperti ini semakin tahun semakin membuka pikiranku tentang pentingnya
menjalin silaturahmi, mengenang bersama-sama masa lalu bersama
keluarga, mendengar petuah dari orang yang dituakan di keluarga,
bertukar pikiran tentang problem-problem pribadi bersama
orang-orang terdekat, dan yang terpenting berbagi kebahagian dengan
semua. Keluarga itu penting.
Senang bisa menyaksikan tumbuh, berkembangnya semua sanak sodara dan ternyata ini benar-benar menginspirasi aku untuk ikut maju dan sukses. Untuk selanjutnya memacu aku berjanji setiap tahun kembali berkumpul untuk membagi kebahagiaan buat semua.

Say your words