Pagi di Kobe
"NET NOT NET NOT!!!", hihihi… ^o^ Bunyi yunik dari alarm bangun pagi udah berbunyi. Seperti biasa hari musim panas di Jepang, 27 Juni matahari sudah sibuk di atas angkasa jam 6.45 pagi.
Aku kebangun dengan sedikit rasa geli denger suara alarm itu. "Aaaah…". suara berat Isao terdengar glissando ke bawah, mengeluh sebal dan lalu,"Gubrak!" bunyi alarm dimatikan dengan tangan. Aku dan Isao kembali bobok.Hihihi..
Semalam aku dan Isao baru tidur sekitar jam 1 lebih, setelah ngobrol sembari lihat foto-foto Isao di Hokkaido lewat laptop celeronnya.
"NET NOT NET NOT!!!" alarm jam Isao bunyi lagi. Dengus nafas Isao terdengar sebal, dan kemudian, "Ohayo Gozaimaaaasu", suara berat Isao yang kartun-style itu menyapa aku untuk bangun tidur. Aku masih bergelimpangan di kasur lantai khas Jepang di kamar Isao yang minimalis. Isao terdengar berjalan membuka pintu rolling dan menuju kamar mandi. "Zwingggingggngingg…". Itu suara cukur jenggot otomatis. Aku menggeliat sambil mikir,"kalau di sini bangun pagi kok semangat, ya?". Ya eyalah, lah hari ini bangun mikirnya cuma mau jalan-jalan!
Aku bangun tidur dan segera siap-siap, memeriksa tas punggung kecil yang aku isi buku, peta, sedikit makanan kecil dan kamera digital. Di ruang tengah yang menyatu dengan dapur, Isao sibuk memanggang roti yang ditumpuki keju di atasnya. "Nggak papa ya, sarapan kita cuma gini," (in English, please). "Ya elah ngga papa, lah" kataku (in English) sambil nyengir. Aku dan Isao duduk di depan meja makan, sarapan beralas tatami sambil lihat TV Jepang yang aku kagak tau artinya apa yak. "please, kita berangkat jam 7.30 ya". Kata Isao habis kita melahap sarapan plus teh jepang. Aku udah siap berangkat. Pagi itu aku ngga mandi (hihihi). Cuci mukak aja dan lap lap badan dikit karena aku semalam udah mandi.Aku belum tau kebiasaan orang Jepang mandi. Isao bilang pagi ini nggak mandi, jadi aku ngerasa ngga enak kalau aku mandi kawatir Isao ngehemat air.
Aku hari itu harus pergi keluar apartemen sama Isao pagi-pagi. Kami berangkat jam 7.30 teng karena Isao harus menuju Boy’s Senior High School-nya yang masuk jam 08.30. Aku sendiri udah janjian di stasiun dekat apartemen Isao untuk ketemu sama Seiko dan Akemi. Diantar mobil Isao dengan iringan gitar modern yang up beat, aku menuju stasiun.
"Enjoy your time!" kata Isao sambil pergi, setelah aku sampai di stasiun. Aku dadah basa-basi dan kemudian membeli tiket seharga 160 yen untuk arah kota Kobe. Isao tinggal di pinggiran.
Stasiun di Jepang seru sekali. Suasananya crowded tapi teratur.Semua orang dengan pakaian macam-macam yang rapi: baju kantor berjas, baju sekolah, bergegas menuju kantor dan dengan rapi mengantre naik kereta.
Seiko pagi itu datang telat ke stasiun. Tapi Seiko memang udah ijin bilang sebelumnya. " Maaf ya.aku hari ini jadi orang Indonesia…" kata Seiko waktu turun dari kereta arah Takarazuka (kota tempat tinggalnya) dengan wajah aroma kasur baru bangun tidur. Kita udah pernah membahas masalah jam karet Indonesia dan rupanya Seiko pandai mengadaptasi itu waktu ketemu aku di Jepang.Hehehehh..
"Nggak papa, di sini giliran aku yang on-time kaya orang Jepang ya," jawabku. Seiko ketawa.
Akemi datang dengan kereta selanjutnya. Memakai topi turis yang sering aku lihat dipakai sama orang Jepang kalau ke Indonesia, dan dadah-dadah dari jauh bikin Akemi keliatan lebih segeran ala Jepang.
Kami bertiga sudah planning hari itu untuk menuju salah satu pantai berpasir di Kobe, dan mengunjungi place of interest kota yang pernah kena gempa dahsyat tahun 1995 ini. Pagi terakhir jalan-jalan. Aku senang melewatkan waktuku di Kobe.