Setelah semua pulang
Pagi tanggal 26 Juni jam lima ’subuh’ waktu Jepang. Ini musim panas di Jepang dan masih masuk waktu dengan siang terpanjang sepanjang tahun. Kamar hotelku yang dijulukii ‘Cocroach House’ sama Hiroko saking mungil dan busuknya, sengaja aku buka tirainya. Matahari sudah cekikikan karena dari www.weather.yahoo.com aku tahu matahari di Osaka saat itu terbit jam setengah lima pagi!
Kamarku no 838 (nomor cantik) diketuk sama Mbak Nana. "Kita berangkat dulu ya, selamat bersenang-senang di Jepang. Sampai ketemu di Indonesia," kata mbak Nana sambil menyerahkan titipan buat Ibu Yenny owner Gita Svara. Aku masih setengah teler karena sebelumnya sampai jam 2 pagi masih upload foto pake internet gratisan di lobi yang aksesnya super cepat itu. Aku terima titipannya n kembali tidur.
Jam 8 aku terbangun dan baru sadar kalau semua anggota BMS sudah berangkat karena mereka harus berangkat ke bandara pagi-pagi untuk mencegah rombongan terlambat check in. Aku cuma melongo di kamar dan merasa kehilangan.
Aku merasa agak cemas sekaligus semangat karena ini hari pertama aku jalan sendiri. Jepang agak sulit buatku jalan-jalan karena struktur transportasinya agak rumit dan huruf kanji bikin aku puyenk. Sampai tengah hari aku harus isi waktuku sendiri. Semua teman Jepang lagi kerja. Dan Seiko salah satunya, baru bisa free sesudah jam makan siang. Aku ketemu dengan Seiko di kota tua Kyotp, 40 menit perjalanan dengan kereta dari Osaka.
Hari itu, setelah pamit dengan K Avip dan Ipul yang juga eksten di hotel, aku menggeret tas 25kg ku dan satu ransel penuh partitur menuju stasiun untuk naik kereta ke central Osaka di Umeda. Di sana aku titipkan tasku di loker otomatis seharga 600 yen/24 jam supaya aku ga repot jalan-jalan.
Aku sangat bersemangat! Aku susuri wilayah sekitar Umeda di Osaka, mengunjungi gedung tinggi (namanya lupa) yang jadi salah satu ikon Osaka dan menikmati lalu lalang orang yang bergegas. Khas Jepang.
Menuju Stasiun Kyoto dengan bekal petunjuk tertulis dari Yuji dan Seiko cukup mempermudah aku sampai di sana.
Aku sempat menunggu lama sebelum akhirnya ketemu Seiko. Hpku ga bisa dipakai (jangan pakai Mentari di Jepang!) jadi agak repot juga. Menjelang sore Seiko menemani aku jalan-jalan menyusuri bekas ibukota Jepang ini. Aku ngga sempat menikmati banyak tempat di Kyoto karena keterbatasan waktu. Tapi menikmati ritme hidup orang Jepang yang lebih rileks di kota kebanggaan Seiko ini bikin aku merasa bersyukur memilih untuk eksten bersama teman-teman Jepang dibandingkan belanja ke Hongkong seperti teman-teman BMS lain.
Aku dan Seiko sepanjang perjalanan wisata kami, banyak bercerita tentang segala hal dalam keterbatasan bahasa Inggris kami. Malamnya di stasiun Osaka aku ketemu dengan anggota Asiaccatura lainnya, Akemi, dan janjian makan malam bareng sebelum berangkat ke tempat nebengku di rumah Isao di pinggiran Kobe. Isao dan Yuji menjemput kami di stasiun dan menuju apartemennya yang mungil. Hari itu kami tutup dengan ngobrol berempat sampai tengah malam sebelum akhirnya Seiko diantar Isao menuju stasiun untuk naik kereta terakhir ke Takarazuka, kota tempat tinggal Seiko di pinggiran Osaka.
Imas said,
July 3, 2007 @ 10:01 pm
emang mas arvin jiwa petualang bgt!!ksempetan buat blenji-blenji di hongkong dilewatkan, demi bisa brpetualang di jepun brg tmn2 asiaccatura-nya.
Sallluuut buat mas arvin yang dah sukses bikin smua org ngiri dengan segudang
pengalamannya hehehe…Sakseus trus ya,
smoga next time agria dan mas arvin bisa kembali berpetualang di Negri orang (europe,red) Amiiinnn..