Archive for June, 2007

Setelah semua pulang

Pagi tanggal 26 Juni jam lima ’subuh’ waktu Jepang. Ini musim panas di Jepang dan masih masuk waktu dengan siang terpanjang sepanjang tahun. Kamar hotelku yang dijulukii  ‘Cocroach House’ sama Hiroko saking mungil dan busuknya, sengaja aku buka tirainya. Matahari sudah cekikikan karena dari www.weather.yahoo.com aku tahu matahari di Osaka saat itu terbit jam setengah lima pagi! 
Kamarku no 838 (nomor cantik) diketuk sama Mbak Nana. "Kita berangkat dulu ya, selamat bersenang-senang di Jepang. Sampai ketemu di Indonesia," kata mbak Nana sambil menyerahkan titipan buat Ibu Yenny owner Gita Svara. Aku masih setengah teler karena sebelumnya sampai jam 2 pagi masih upload foto pake internet gratisan di lobi yang aksesnya super cepat itu. Aku terima titipannya n kembali tidur.
Jam 8 aku terbangun dan baru sadar kalau semua anggota BMS sudah berangkat karena mereka harus berangkat ke bandara pagi-pagi untuk mencegah rombongan terlambat check in. Aku cuma melongo di kamar dan merasa kehilangan.
Aku merasa agak cemas sekaligus semangat karena ini hari pertama aku jalan sendiri. Jepang agak sulit buatku jalan-jalan karena struktur transportasinya agak rumit dan huruf kanji bikin aku puyenk. Sampai tengah hari aku harus isi waktuku sendiri. Semua teman Jepang lagi kerja. Dan Seiko salah satunya, baru bisa free sesudah jam makan siang. Aku ketemu dengan Seiko di kota tua Kyotp, 40 menit perjalanan dengan kereta dari Osaka.
Hari itu, setelah pamit dengan K Avip dan Ipul yang juga eksten di hotel, aku menggeret tas 25kg ku dan satu ransel penuh partitur menuju stasiun untuk naik kereta ke central Osaka di Umeda. Di sana aku titipkan tasku di loker otomatis seharga 600 yen/24 jam supaya aku ga repot jalan-jalan.
Aku sangat bersemangat! Aku susuri wilayah sekitar Umeda di Osaka, mengunjungi gedung tinggi (namanya lupa) yang jadi salah satu ikon Osaka dan menikmati lalu lalang orang yang bergegas. Khas Jepang.
Menuju Stasiun Kyoto dengan bekal petunjuk tertulis dari Yuji dan Seiko cukup mempermudah aku sampai di sana.
Aku sempat menunggu lama sebelum akhirnya ketemu Seiko. Hpku ga bisa dipakai (jangan pakai Mentari di Jepang!) jadi agak repot juga. Menjelang sore Seiko menemani aku jalan-jalan menyusuri bekas ibukota Jepang ini. Aku ngga sempat menikmati banyak tempat di Kyoto karena keterbatasan waktu. Tapi menikmati ritme hidup orang Jepang yang lebih rileks di kota kebanggaan Seiko ini bikin aku merasa bersyukur memilih untuk eksten bersama teman-teman Jepang dibandingkan belanja ke Hongkong seperti teman-teman BMS lain.
Aku dan Seiko sepanjang perjalanan wisata kami, banyak bercerita tentang segala hal dalam keterbatasan bahasa Inggris kami. Malamnya di stasiun Osaka aku ketemu dengan anggota Asiaccatura lainnya, Akemi, dan janjian makan malam bareng sebelum berangkat ke tempat nebengku di rumah Isao di pinggiran Kobe. Isao dan Yuji menjemput kami di stasiun dan menuju apartemennya yang mungil. Hari itu kami tutup dengan ngobrol berempat sampai tengah malam sebelum akhirnya Seiko diantar Isao menuju stasiun untuk naik kereta terakhir ke Takarazuka, kota tempat tinggal Seiko di pinggiran Osaka.

Comments (1) »

di Jepang

Halllo,

ini hari pertama yang cukup panas di Kanazawa! Sampai tanggal 28 Juni aku bakal nangkring di Jepang…keluyuran menyanyi di Kanazawa dan Nagoya, terus ke Osaka, Kyoto dan Kobe.

]Semalam nyampe di hotel jam 2 pagi setelah terbang 8 jam ke Jepang tidak termasuk transit di Hongkong. Cape juga karena pesawat Cathay Pacific bangkunya agak sempit biarpun selimutnya anget (tahu kaaan selimut nasibnya gimana.hihih).

Ternyata rombongan kami Batavia Madrigal Singers mendarat bukan di Tokyo tapi di Nagoya. Nagoya lebih dekat jaraknya dari Kanazawa, 4 jam perjalanan dengan bus ke arah timur laut.

Hari ini belum konser, jadi sepanjang siang setelah tidur cukup ada kesempatan buat jalan-jalan sebentar lihat kota Kanazawa yang kecil. Foto-foto hari pertamaku bisa diunduh di www.arvinzen.multiply.com.

Hmmm cuaca di Jepang cukup panas, biarpun anginnya sejuk dan kalau malam tetap seperti di Bandung. Lumayan lah ga perlu jajaketan seperti pas musim semi kemarin. Tadi BMS sempat latihan dari jam 5 sampai jam 10 malam di gedung konser yang nyaris mirip dengan concert hall di Budapest, lengkap dengan orgel-orgelnya. Koks bisa ya, mirip banget gitu?

Besok siap-siap konser akapela (lengkap dengan tarian.hadoh) di Concert Hall Kanazawa dan latihan gabung dengan orkestra Kanazawa yang main musiknya nyaris sempurna itu…

Oya, hari ini ketemu lagi dengan Hiroko, geng Asiaccatura, yang tambah kurus kemurus tapi tetap jenaka, dan sebentar lagi dengan teman-teman Jepang yang lain..hah..menyenangkan sekali..

Kalau pas gini, lupa sejenaklah apa yang harus dipersiapkan buat grup-grup di Indonesia dan murid-muridku tersayang (heheheh) di Bandung dan Jakarta..

Oya  buat teman-teman yang mau ke Jepang suatu waktu, bawalah hape 3G dengan provider IM3 atau XL, dijamin bisa ber-sms-an di Jepang. Menyesal kali aku ini, baru tahu kalau kartu-kartu itu bisa dipakay sesudah nyampe Jepang. Jadi hp N73 manyun aja cuma dipake foto-foto.

Ya udah, aku istirahat dulu. Sekiyan kabar kabur dari Kanazawa… 

Comments (4) »

Menjelang ke Jepang

Sebentar lagi aku kembali menikmati indahnya pemandangan awan gemawan dari atas langit.
Alhamdulillah Allah membiarkan aku boleh menikmati salah satu ciptaan yang paling aku kagumi: perpaduan langit, bumi dan awan dari atas pesawat udara. Selasa pagi besok perjalananku dengan Cathay Pacific via Hongkong menuju Jepang selama 10 hari. Sekarang ini aku pergi bukan sebagai pemimpin tapi sebagai penyanyi (wow leganya…heheh). Dengan Batavia Madrigal Singers ini kami bakal berkonser dengan Kanazawa Orchestra, salah satu orkestra terbaik di Jepang ke beberapa kota: Nagoya dan Tokyo, selain berkunjung ke Kyoto dan Osaka.

Sebenarnya berat juga sih meninggalkan banyak rutinitas dan kewajiban selama di Indonesia, apalagi baru 2 bulan lalu aku baru datang dari Hongaria dalam rangka memimpin Agria Swara IPB di lomba paduan suara internasional yang berakhir mengesankan itu. :). Banyak pe-er yang harus dikerjakan, membayar hutang-hutang mengajar, memulihkan citra pembolos di mata murid dan orangtua murid (hihihi…) dan mempersiapkan  PS Unpad  menuju Kompetisi Paduan Suara Unpar Agustus akhir nanti….dan yang paling penting..memulihkan keuangan..h.ahaha..
Tapi tawaran asyik BMS ke Jepang dari akhir tahun lalu nggak kuasa aku tolak. Sebenernya kali ini situasi keuangan nggak begitu indah, karena iuran BMS buat ke Jepang nggak se-enteng akhir tahun lalu waktu ke Makau dan Perancis (tiga minggu bow). Kali ini serasa dikejar-kejar debt collector aja karena perkembangan urunan yang membengkak membikin anggota BMS mabok tujuh keliling.
Hmmm,tapi detik-detik terakhir ini…berkat amalan doa Al-Insyirah yang indah itu, yang rajin aku baca setiap shalat,  terbukalah banyak jalan rezeki dari Allah, salah satunya kok datang ngga disangka-sangka dari owner Gita Svara, Ibu Yeni. Baru tadi sore aku sama Mbak Nana pamitan ijin ngga ngajar, Ibu Yeni ‘titip’ bingkisan kertas yang isinya masing-masing…100 dollar US.
Bener lho…Aku sampai bingung harus ngomong apa karena kebaikan hati yang mendadak ini. O…ekstenku ke Jepang jadi makin nyaman nih..heheh. Lumayan mengurangi beban debt collector BMS yang agak mencekik itu..

Oya, penghujung kegiatanku dengan BMS nanti, aku bakal berkunjung dan stay sejenak di rumah Isao, di pinggiran kota Kobe. Isao ini salah satu teman terbaikku selama 2 kali ikut Asian Youth Choir di Jepang. Dia berbaik hati dan menerima dengan tangan terbuka kunjunganku ke sana. Bersama Seiko dan Yuji, teman AYC juga, aku bakal diajak jalan-jalan ke tempat-tempat menarik di sekitar Kobe. Belum tau sih mau ke mana. Tapi aku akan menikmati sekali jalan-jalan ke tempat sobat-sobat Jepunku ini.
Foto-fotonya seperti biasa aku share di Multiply sesudah pulang nanti. Di Jepang karena sistem telekomunikasinya beda sama Indonesia, aku ga bakal bisa terima tilpun maupun sms. Alhasil kalau mau berkontak ria mungkin harus tilpun dari tilpun yumum atau pake internet yang koneksinya ekstra cepat tapi mahal. Lihat-lihat nanti ya…

Comments (5) »

Konser sudah selesai

Konser Bandung, 3 Juni 2007 dari rangkaian Earth’s Rhapsdoy sebagai konser tahunan PS Unpad 2007 sudah selesai. Yang aku rasakan macam-macam. Setiap tahun ’sensasi’nya memang berbeda-beda karena komposisi orang dan nuansa lagu-lagunya ikut berpengaruh.

Konser di Bandung alhamdulillah terasa lebih rapi dan lebih baik, karena insiden hari Jumat itu *aku pikir* jadi pemacu teman-teman Unpad untuk lebih sungguh-sungguh di hari Minggunya.
Awal latihan siang Minggu itu aku pimpin dengan perasaan hati seperti hari Jumat. Aku rasa saat itu aku menumpahkan kekesalan dan kekecewaanku pada awal latihan. Lumayan terobati berangsur-angsur, setelah melihat kesungguhan penyanyi dan  juga sikap dari teman-teman yang tidak ingin mengulang kekurangan di konser Jakarta hari Minggu sebelumnya. Di akhir latihan (GR) aku mengungkapkan perasaan dan permohonan maafku untuk segala ketidaknyamanan sepanjang siang dan hari-hari sebelumnya.

Tapi waktu masuk panggung di permulaan konser, aku sekali lagi harus kecewa, waktu melihat sangat sedikitnya jumlah penonton yang hadir di konser. Dari kapasitas 300 (bener ngga ya) kursi yang terisi kurang dari 1/4nya. Memang penonton nambah dari waktu ke waktu tapi jumlahnya tidak banyak untuk ukuran ruangan yang besar. Konser jadi kerasa sepi. Terlepas dari apa yang sudah diusahakan, aku sangat menyayangkan ketidaksigapan panitia dalam mengurus konser kali ini–> terutama masalah publikasi.
Teman-teman penyanyi selama latihan-latihan terakhir sebelum konser sudah berada dalam tekanan dari aku untuk menyanyi dengan maksimal.Ternyata semua tidak terbayar dengan jumlah penonton yang sedikit. Semua penyanyi tentu saja berharap ditonton oleh banyak orang. Penyanyi dan aku sendiri pengen dihargai dan diapresiasi, sesuai dengan yang sudah kita usahakan selama latihan.
Ini perlu jadi bahan renungan dan pelajaran buat pengurus dan panitia agar bersungguh-sungguh (terutama belajar dan mendengar dari banyak orang yang lebih tahu), supaya konser atau acara-acara PS Unpad di tahun-tahun mendatang lebih didengar dan diapresiasi oleh banyak orang.

Pesanku yang lain dan tidak kalah penting untuk kegiatan-kegiatan ke depan:
manfaatkan waktu sebaik-baiknya dan jangan pernah mempermainkan waktu. Rasanya cuma PS Unpad yang bisa latihan sampai jam 1 malam karena kita mengkonsistenkan masalah waktu ini tapi pada akhirnya yang rugi tetap kita semua. Jam latihan tetap efektif (karena strict 3-4 jam sekali latihan mulai jam  berapa pun), tetapi banyak waktu dan energi yang terbuang untuk menunggu. Padahal dalam masa menunggu latihan itu (tepatnya menunggu teman-teman lain datang sesuai kuota), kita bisa melakukan banyak hal dengan lebih bermanfaat misalnya belajar, kursus, mengerjakan tugas dan lain-lain.

Yang terakhir:
Unpad perlu belajar organisasi lebih sungguh-sungguh, dengan mengikuti seminar tentang organisasi, pelatihan atau studi banding ke universitas/unit kegiatan lain.
Krisis organisator handal  di PS Unpad terasa sekali dan ini bisa menghambat kemajuan kelompok ini. Dalam tahun-tahun terakhir beberapa program besar PS Unpad yang gagal salah satu faktornya karena kurang kuatnya lobi dan komunikasi dengan pihak mitra kita (lembaga,penyandang dana dsb).

Konser kemarin lebih baik dari konser di Unpad, tapi rasa tidak puas tentang hal-hal di atas bikin aku punya sedikit kesan yang tidak nyaman pada konser tahun ini.
Aku khawatir kalau kita tidak berubah, KPS bulan Agustus akhir nanti (3bulan lagi!) menuai hasil yang tidak maksimal (naudzubillaahi min dzaliik).
Mudah-mudahan semua kekurangan yang ada bisa jadi bahan evaluasi buat PS Unpad ke depan.

Comments (2) »

Aku lelah dengan PSM Unpad…
Aku tersinggung dengan situasi yang tidak bisa di-handle pengurus/panitia.
Aku merasa tidak dihargai.
Konser hari Minggu sudah tidak mungkin lagi aku prediksi. Semoga tidak mengecewakan semua yang menonton.
Minta doanya…

Comments (6) »