Ada satu bagian dalam setiap perjalanan jauh ke Eropa yang selalu aku tunggu-tunggu.
Hehehe… ^o^
jangan berharap momen itu adalah momen belanja! Karena aku pada dasarnya ngga begitu suka belanja. Untuk diri sendiri boro-boro, karena uang saku selalu dipakay beli oleh-oleh atau pernik-pernik buat orang lain. Kalau sampai di Indonesia sudah habis dibagi-bagi, paling yang tersisa buat diri sendiri ya: beberapa potong coklat, beberapa gantungan kunci dan peta (tentu saja!).
Satu yang selalu aku tunggu adalah.. momen di atas pesawat.
Heheheh…
bukan pula saat mencicipi makanan (itu mah memang keharusan buat ganjal perut) atau menixmati hiburan lewat tivi mungil di depan mata.
Tapii…
menikmati awan yang lagi berarak-arak di bawah dan di atas kita dengan perpaduan langit, laut dan daratan yang sangat menakjubkan! (biasa banget, ya??)
Buat yang sering naik pesawat mungkin hal itu sudah biasa, tapi buatku kok ya ngga ada bosannya.
Mmmm…
makanya paling enak dapat seat di pesawat yang bersebelahan langsung dengan jendela. Sambil ditemani musik klasik yang ringan, dengan tangan di dagu dan hidung menempel di jendela,.. pikiran melayang menyusuri awan-awan putih yang berarak dengan beragam bentuk yang sangat-sangat indah. Menyaksikan daratan di bawah yang begitu jauh, dengan beragam kontur yang terbentuk dari hutan, sawah, pedesaan, kota, jalan, sungai… Laut yang jernih biru, dengan titik-titik putih kapal atau bongkahan kecil daratan, disaput awan yang tersebar sejauh mata memandang.
Suasana tenang, hati tentram, kadang alunan doa terpuji dari relung hati, kadang berganti dengan pikiran-pikiran tentram yang menyejukkan karena pandangan mata dilenakan oleh pemandangan ciptaan Tuhan yang jarang disaksikan. Aku merasa terberkati… It make me feel blessed.
Salah satu momen paling menakjubkan buatku ketika di atas pesawat,… ikut menyaksikan pergantian malam menjadi terang. Yang aku saksikan nggak terjadi secara tiba-tiba, tapi dimulai dengan pekerjaan Maha Agung yang sangat detil dan indah.
Dimulai dari segaris cahaya tipis berwarna ungu kemerahan di garis cakrawala, perlahan memendar menjadi berbagai macam warna pelangi menerangi dua belahan cakrawala. Dihiasi bintang-bintang atau terkadang bulan, warna pelangi sebatas garis cakrawala itu perlahan menerang dan memperluas spektrum warnanya ke seluruh penjuru langit sampai warnanya mampu mengubah biru tua langit menjadi semakin muda dan terang.
Momen itu aku abadikan ke beberapa foto, tapi perasaan jiwa sepertinya tidak bisa digambarkan bahkan melalui kata-kata. Yang terucap saat itu cuma puji syukur, perasaan terberkati dan alunan pujian kepada Allah sang Maha Pencipta. Aku pikir itu salah satu poin terpenting kenapa agama menganjurkan bangun pagi (bahkan shalat subuh…astaghfirullah susahnyaa..) supaya kita tahu bersyukur, menikmati keagungan Tuhan dan takzim kepada-Nya.
Besok malam, setelah seharian menunggu di sudut-sudut belanja Singapura, adalah hari berangkat ke Budapest. Aku sangat bersyukur untuk bisa menikmati momen terpenting dalam setiap perjalan jauhku. Semoga ini menjadikan aku makin dekat kepada Allah Maha Pencipta. Amin.