banjiiiir…
Dini hari Sabtu 3 Februari 2007, jam 1/2 3 pagi,
kamarku di lantai 2 diketok sama Andi, pembantu rumah.DOK..DOK..DOK..!,"Mas Ivin! air sudah masuk rumah..!!".Aku terjaga dengan kepala yang berat.
Terdengar hujan deras di luar rumah. Suara alarm mobil bersahut-sahutan. Kondisi badanku masih penat.Jumat kemaren tua di jalan kena macet parah Bandung-Jakarta, dan pindah barang2 sebelum air masuk ke rumah.Komplek rumahku di Kelapa Gading saat itu udah kegenang air setinggi lutut.Tapi rumahku selama ini aman ga pernah kemasukan air..
Aku bangun dengan cemas. Kubuka pintu dan langsung terpampang pemandangan pertama kalinya di rumah. Air di lantai bawah menggenang dengan cerianya, setinggi betis menelusuri setiap sudut rumah dengan warna coklat kehijauan. Wah setengah mati paniknya.
Pagi buta itu langsung kuhubungi Ibu.Ibu-Bapak masih ada di Surabaya dalam rangka mengunjungi adik dan cucu2 di sana. Ibu masih terkantuk-kantuk menerima teleponku. "Bu, banjir udah masuk rumah!!!Apa yang mau diselamatkan pertama kali, Bu?Ada barang-barang penting di kamar Ibu yang mau duluan dipindah ke atas ngga???"
Ibu kebingungan juga. Tapi diputuskan menyelamatkan buku-buku dan berkas-berkas penting dulu ke lantai atas.
Aku cepat masuk ke kamar orangtuaku. Wangi khas kamar Bapak-Ibu yang menenangkan itu, sudah berganti aroma air sawah yang agak amis. Lemari baju Ibu-Bapak aku buka dan baju-baju di laci bawah sudah basah terendam. Batik, brokat, songket-songket hadiah teman-teman Ibu semasa Bapak dinas jadi kuyup semua. Dengan badan ngga karuan di tengah air sebetis, aku segera pindahkan baju Bapak-Ibu yang banyak sekali itu ke lantai atas. Listrik alat elektronik segera aku cabut sebelum aku mati kaku tersengat. Di halaman belakang terdengar air tumpah deras mengisi kolam renang yang kosong.Tinggi air sudah melewati tinggi pinggiran kolam. Jatuh dengan suara seperti air terjun. Lemari es yang ada tiga itu(banyak kali!) kami pindahkan ke atas peti.Ampun beratnya karena di dalamnya berisi daging, es, dan bahan-bahan bisnis kebab Ibu.PLUNG! Hapeku kecemplung dan ilang dalam arus air di rumah. Hilang sudah semua nomor pentingku…
Kami kebingungan apa yang harus diselamatkan dulu. Serabutan barang2 diangkat dan dinaikkan ke atas: tv, bantal, kasur,dispenser,komputer. Kami berpacu dengan air yang lambat tapi pasti meninggi. Kertas-kertas, koran, ember-ember, tabung gas, galon, semua berenang dengan gembira menikmati kebebasan mereka.
Aku dan Andi terus mengangkut barang-barang. Ga merasakan badan yang lelah karena hari sebelumnya sudah kerja keras menyemen lima pintu rumah dengan batako supaya air ga masuk. Semua sia-sia karena hukum alam. Air yang semakin tinggi sudah menjebol pertahanan senilai 50ribu (heheh)bikinan kami.
Perlahan-lahan hari mulai terang. Tapi mendung bergandul di langit dengan hujan rintik. Udara Jakarta mendadak terasa sedingin Bandung. Aku terseok-seok di air setinggi lutut menuju lapangan basket di depan rumah, dipenuhi mobil titipan orang. Mereka tahu blok di rumahku ini terkenal lumayan tinggi jadi mereka pikir ga bakal banjir,makanya orang pada berebut taruh mobil di sana.Tapi sekarang semua mobil udah kelelep setinggi ban. Mobil Honda City Bapak yang kipas mesinnya udah berkurang bisingnya itu, tampak merana berlimpahan air. Ada beberapa mobil yang alarmnya meraung-raung.Kayanya karena kemasukan air, mobil-mobil itu merengek-rengek minta diselamatkan.
Aku dan Andi mencoba memeriksa mobil..wow..di dalam mobil air sudah menggenang. Aku mencoba menyeberang keluar ke luar cluster komplek rumah. JEBLUSSHHH..!basah kuyup aku kejeblos got! Mana aku bisa lihat posisi got yang udah ketutup air? Lumayan pagi-pagi aku langsung basah sedada (>_<)
Berjalan ke luar cluster, air semakin dalam. Di blok luar rumah, air setinggi paha atas (serasa paket McD) dan arusnya cukup kuat karena jalan agak turun. Orang-orang pagi itu belum banyak yang keluar rumah. Ini serasa ada di sungai atau lautan. Lapangan tenis tempat Bapak olahraga berubah jadi kolam renang raksasa…air di mana-mana.
Aku kembali ke arah rumah dengan susah payah, melewati rumah-rumah tergenang dengan pembantu-pembantu centil yang cekakak cekikik gembira menikmati banjir.
Sekelompok anjing liar berlindung di bangku pos satpam bersungut-sungut kedinginan dan nampak ketakutan. Dalam hati aku bersyukur,"rasain! biasanya kalian kan nge-jegog aku kalau aku pulang dari ngajar, kan!." Kejam, ya? Heheh.
Kembali aku ke pekerjaan kuli angkut barang. Sedikit demi sedikit dengan tenaga yang makin lemah.Iya.Sejak Jumat kemaren perut cuma keisi nasi dan indomi (aduh..) karena bahan makanan susah didapat. Di rumah belum sempat menimbun bahan makanan.Mau keluar komplek juga susah setengah mati.
Air kok makin tinggi? Terus hujan mulai turun lagi…
Aku ketiduran cape. Dalam mimpi aku ngelihat halaman sudah kering, langit terang, wah menyenangkan. Sekitar jam 11 aku kebangun lagi, dan melihat halaman luar dari jendela…tak seindah mimpi..air di rumah nyatanya udah setinggi paha. Alarm mobil-mobil masih meraung-raung tapi makin melemah, kayanya mereka pasrah dan takluk sama air.
Aku keluar rumah ketemu sama Tante dan Oom yang tinggal di sebelah rumah, ngobrol-ngobrol dengan nada gusar tapi pasrah. Tetangga-tetangga juga pada berkeliaran. Yang anak-anak pada ceria berenang-renang, yang remaja foto-foto pake hape. Beberapa perahu dadakan dari galon air lewat menawarkan jasa antar. Serasa di manaaa..gitu. Di halaman ikan-ikan sejenis bawal berenang dengan bebas, beberapa ekor juga ngintip-ngintip di depan rumah dan akhirnya masuk ke rumah cari-cari tahu. Mereka pasti berpikir,"Kapan lagi nih kelayapan ke rumah manusia." Dasar!
Setelah yakin semua barang yang penting sudah diselamatkan ke atas, jam tiga sore dengan badan tidak mandi 2 hari, aku berjuang lagi keluar komplek dengan air setinggi perut (jinjit dikit biar ga kelelep banget) melawan air berarus. Aku melihat orang-orang (banyak sekali) pada keluar rumah, ada yang bawa jaring buat nangkap ikan, ngungsi bawa barang, dan pembantu-pembantu yang (sempet-sempetnya) cekikikan basah-basah sambil cuci mata cari kecengan.DOOH.Iya komplekku ini banyak pekerja-pekerja lelaki di ruko yang juga suka centil-centil godain pembantu. Hari banjir serasa hari bahagia buat mereka karena para penata laksana rumah tangga itu bebas keluar tanpa majikan, toh..heheh..Lucu juga liat tingkah laku mereka.
Sampai di luar komplek yang ga kebanjiran, di jalan raya yang macet dan ramai aku berbasah-basah mencegat metro 41 yang bejubel.Orang-orang dengan tas atau gumpalan kain,bercelana pendek atau baju seadanya, senasib, menuju arah Pasar Ular di Tanjung Priuk yang ga kena banjir. Andi aku titipin pesan untuk pindah barang sebisanya.Makanan-makanan yang ada, aku kasih buat persediaan Andi sebelum Bapak-Ibu dan aku kembali datang.
Aku tinggalkan rumah dengan sedih dan perasaan kacau. Bertekad kembali secepatnya sesudah urusan ngajar Bogor dan Bandung beres.