Archive for June, 2006

luv u mom n dad

Sabtu sore, 24 Juni 2006.Tebet.

HP bergetar di tengah-tengah rapat penting bersama Ibu ‘Ketrin, kepala sekolah Gita Svara. Gelisah. Di layar hape, nama ‘Bapak’ berkedip-kedip minta segera diangkat. Aku pura-pura ga ada apa-apa, sementara rapat alot membahas ujian siswa bulan depan. Hape bergetar lagi. Aku biarkan lagi.Bergetar lag.Bergetar lagi, aku gelisah.Dan akhirnya di tengah-tengah pembicaraan rapat, aku izin keluar untuk menerima panggilan. Semua pandangan melotot ke arahku. Ibu ‘Ketrin menunjukkan ekspresi kurang senang. Aku nggak peduli.

"Vin!Kenapa ngga diangkat-angkat??Sudah berulang kali di telepon? sekarang ada di mana??" Bla bla bla…Ibu di seberang bicara dengan nada gusar dan khawatir.

Aku menahan perasaan,"Ivin lagi rapat Gita Svara, Bu.Penting. Ngga enak kalau sampai harus nerima telepon."
"ooo…" Ibu mahfum. "Sampai jam berapa??? Bapak Ibu sudah dalam perjalanan ke Tebet. STNK mobil Ivin ada di Ibu. Jangan sampai ga bawa STNK kalau mau ke Bandung!"

"Ya udah rapat setengah jam lagi selesai. Jam enam Ivin keluar." aku menutup pembicaraan.

Kembali ke ruang rapat. Semua masih serius memilih lagu wajib yang pas buat siswa, dari anak sampai dewasa. Jadwal ujian teori, ujian praktek dan pentas panggung juga masih cari format dan jadwal yang pas. Ternyata manajemen sekolah musik seserius Gita Svara, ngga segampang yang aku duga.

Jam udah menunjukkan jam 6 lewat. Aku bolak balik lirik jam dinding. Deg-degan, kawatir Bapak Ibu telpon lagi udah ada di lantai bawah nunggu aku. Christine, guru vokal yang lain juga keliatan gelisah pengen pulang. Ata, guru paduan suara anak masih ditanya-tanya sama Bu Ketrin perihal jadwal dan pentas panggung kelompoknya. Makin lama, sikapku yang gelisah ini makin ‘atraktif’ dan Ibu Ketrin mulai paham.

"ya sudah rapat hari ini saya tutup dengan doa.."

Semua guru keliatan lega. Kayanya semua memang pengen buru-buru pulang dengan berbagai kepentingan.

Doa selesai, di pintu keluar, Ibu Ketrin bilang," Arvin, sukses ya, konser hari Selasa nanti." Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih (konser Unpad yang latihannya ga jelas itu bakal ditonton Bu Ketrin? Bikin aku kepikiran.Heheh).

Cepat-cepat ke lantai bawah. Aku lihat ga ada siapa-siapa cuma ada satpam, dan aku tanya, apa ada yang titip STNK buat aku.

"Ga ada, Mas." jawab satpam. Aku berpikir Bapak Ibu pasti belum sampai.

Aku telepon Bapak. Di seberang, Bapak bilang," Sudah mau keluar tol Tebet.Ivin di mana?"

Bapak n Ibu dari BSD rumah abangku. Hari Sabtu itu Bang Ivan ulang tahun.

Aku janji sama Bapak menunggu di tepi jalan, seberang Gita Svara supaya Bapak Ibu ga repot parkir.

Udah gelap, maghrib sudah lewat, dan jalanan padat karena ini malam minggu.

15 menitan nunggu. Dari jauh aku lihat mobil Bapak, Honda City hijau, berjalan mendekat. Suaranya agak bising karena kipas mesinnya perlu diganti. Jendelanya kebuka, karena aku tau ACnya ga bisa dingin. Aku membayangkan perjalanan Bapak Ibu yang berdebu dalam panas cuaca Jakarta.

Aku mendekat. Di dalam aku lihat Ibu berkeringat tanda kepanasan. Kerudungnya agak basah. Bapak juga kelihatan gerah. Aku bukakan pintu. Ibu menyerahkan STNK mobil APV-ku.STNK yang aku lupa, ketinggalan di rumah sebelum berangkat ngajar dan lanjut ke Bogor-Bandung.

"Ibu kawatir ada apa-apa di Bandung kalau nggak bawa STNK. Makanya Ibu susulin Ivin."  Aku lihat wajahnya yang nampak cape dan berkeringat. Bapak masih di depan setir, sambil ngeliat aku beliau bilang,"makanya lain kali jangan pelupa."

Kata-kata itu masih aku ingat dari kecil (karena aku memang pelupa). Aku tersenyum sambil garuk kepala,"makasih Bapak."

"Hati-hati, ya Le."  Ibu pamitan. Le=tole buat panggilan kesayangan anak laki-laki dalam bahasa Jawa.

Aku cium tangannya dan pipinya yang berkeringat. Aku masukkan kepala sedikit ke mobil, dan aku cium tangan Bapak. "Bapak Ibu makasih. Hati-hati di jalan, ya.."

Aku melihat tatapan sayang dari Bapak Ibu buat aku. Pintu sebelah kiri depan aku tutupkan buat Ibu.Jendela dibiarkan terbuka.

"Assalamualaikum.." aku memberi salam.

"Waalaikum salam.." Jawab Bapak Ibu, balaskan doa itu buat aku.

Mobil menjauh menuju arah Casablanca. Aku masih lihat  lambaian tangan Ibu. Suara kipas mobil yang berisik itu terdengar menjauh.

Aku terdiam sebentar di tepi jalan sambil melihat mobil Bapak yang semakin hilang di tengah jalan yang ramai.

….

Hanya untuk sebuah STNK, Bapak Ibu rela berpeluh datang ke tempatku mengajar. Untuk rasa sayangnya, Bapak Ibu pergi dari utara Jakarta menuju BSD jauh di ujung yang lain, untuk ketemu sama abangku (yang sudah berkeluarga) sekedar meramaikan suasana ulangtahun yang sebenernya tidak pernah dirayakan.

Semua perasaan dan gambaran tentang kasih sayang Bapak Ibu, sejak dulu sampai sekarang..langsung terbayang.

Aku laki-laki. Tapi untuk urusan sayang orangtuaku, aku suka susah menahan air mata. Berhubung di tepi jalan ramai, cepat-cepat aku usap dan aku segera menyeberang ke arah APV.  Aku bergegas ke Bogor, menyusuri jalan tol Jagorawi, yang terasa lurus dan lega, seperti kasih sayang Bapak Ibu.

Allahummagh firlii wali walidayya warhamhuma kamaa rabbayaani saghiira

(Ya  Allah, kasihilah orangtuaku sebagaimana mereka mengasihi aku sewaktu aku kecil).Amin.

Comments (6) »