JALAN-JALAN KE MANINJAU
Hari Sabtu, 24 Desember s/d Senin 26 Desember sore aku habiskan waktu di kampung halaman Bapak di Sumatra Barat.(Di cerita lebaran kemarin aku udah gambarkan gimana hangatnya keluargaku di Magelang). Tepat 25 Desember,40 hari meninggalnya Nenek (ortu Bapak). Keluarga Bapak berkumpul untuk mengadakan kenduri dan pengajian. Berhubung pas dulu meninggal aku nggak bisa ke sana, jadi 40harian-nya, aku sempatin ke Maninjau, kota kecil tepian danau, tempat keluarga besar Bapak dari suku Gucci.Aku di sana sama adikku, Diva–>ponakan, dan Ibu-Bapak.
Tadi sore pas ketemu lagi sama teman-teman Unpad, ada yang tanya,"Maninjau di mana sih..?". Ternyata danau ini memang nggak setenar Danau Toba (tentunya!),sampai pada ngga ‘ngeh di mana letaknya. Tuh, lihat aja di peta Sumatra Barat, danau Maninjau itu letaknya 36km dari Bukittinggi, atau beberapa puluh kilo dari Padang (aku ga tau tepatnya).Dikelilingi pegunungan tinggi, dari Bukittinggi untuk menuju ke Danau Maninjau harus turun melewati Kelok Ampek puluh Ampek, jalan ke Maninjau yang memang terdiri dari 44 tikungan (kelok).Setiap tikungan ditandai dengan ‘plang yang menandai kelokan. Pemandangan sepanjang kelokan ini akan membuat kita berdecak kagum memuji keindahan alam.
Udara di tanah kelahiran Buya Hamka ini sejuk dengan danau yang berkaca ke langit biru. Warnanya indah sekali. Apalagi di waktu pagi dan sore hari. Lebih asik lagi kalau sambil bersampan…Foto ini diambil waktu pagi jam 6. Indah ya…
Dari pemilik Kafe Monica (aku sempat makan malam di sini) di pusat kota (tepatnya=desa) Maninjau, dia memberi jaminan bahwa Danau Maninjau lebih indah ‘view’ dan kondisi airnya dibanding danau Toba. Nyatanya aku memang betah banget berlama-lama nongkrong di sini, melihat-lihat alamnya yang ‘elok bana’, berenang-renang di tepiannya, menikmati airnya yang hangat.
Selama di sana aku tinggal di Vila Impian, penginapan milik keluarga besar Bapak . Penginapannya yang berlantai kayu, dengan corak bangunan semi tradisional, asik sekali. Vilanya menghadap langsung ke danau berkilau. Beberapa langkah bisa langsung nyemplung ke danau. Menyenangkan. Kalau ngisi waktu di sela acara keluarga, paling asik sambil nongkrong sekedar baca buku, main air, melihat gunung dan desa-desa di seberang atau nontonin orang mancing ikan.
Suasana di desa Maninjau tenang sekali. Cuma sesekali suara motor, karena memang daerahnya relatif sepi (padahal pusat wisata juga). Udaranya segar khas pegunungan. Alamnya, Subhanallah masih asri dan alami. Jangan bandingkan dengan di Jawa, ya. Hutan di sini masih alami belum dijarah menjadi pemukiman atau sawah (jangan sampai deh).
Aku sempat keliling danau sama2 Bapak Ibu dkk. Menurut Bapak, kalau danau ini dikelilingi, jaraknya sekitar 70km. Jadi termasuk luas juga nih danau. Pemandangannya ga perlu ditanya lagi. Sangat-sangat indah dan tenang. Oya, selain Maninjau, aku juga sempat ke Bukittinggi mengunjungi
Jam Gadang, dan ke air terjun Lembah Anai, yang ada di tepi jalan raya Padang-Bukittinggi.
Ini ada foto-foto perjalananku ke sana, bisa dilihat di My Album lengkap dengan keterangannya.




