Archive for December, 2005

JALAN-JALAN KE MANINJAU

ASumbar_mapkhir pekan di Maninjau.

Hari Sabtu, 24 Desember s/d Senin 26 Desember sore aku habiskan waktu di kampung halaman Bapak di Sumatra Barat.(Di cerita lebaran kemarin aku udah gambarkan gimana hangatnya keluargaku di Magelang). Tepat 25 Desember,40 hari meninggalnya Nenek (ortu Bapak). Keluarga Bapak berkumpul untuk mengadakan kenduri dan pengajian. Berhubung pas dulu meninggal aku nggak bisa ke sana, jadi 40harian-nya, aku sempatin ke Maninjau, kota kecil tepian danau, tempat keluarga besar Bapak dari suku Gucci.Aku di sana sama adikku, Diva–>ponakan, dan Ibu-Bapak.

Arvin_134Tadi sore pas ketemu lagi sama teman-teman Unpad, ada yang tanya,"Maninjau di mana sih..?". Ternyata danau ini memang nggak setenar Danau Toba (tentunya!),sampai pada ngga ‘ngeh di mana letaknya. Tuh, lihat aja di peta Sumatra Barat, danau Maninjau itu letaknya 36km dari Bukittinggi, atau beberapa puluh kilo dari Padang (aku ga tau tepatnya).Dikelilingi pegunungan tinggi, dari Bukittinggi untuk menuju ke Danau Maninjau harus turun melewati Kelok Ampek puluh Ampek, jalan ke Maninjau yang memang terdiri dari 44 tikungan (kelok).Setiap tikungan ditandai dengan ‘plang yang menandai kelokan. Pemandangan sepanjang kelokan ini akan membuat kita berdecak kagum memuji keindahan alam.

Arvin_101_1 Udara di tanah kelahiran Buya Hamka ini sejuk dengan danau yang berkaca ke langit biru. Warnanya indah sekali. Apalagi di waktu pagi dan sore hari. Lebih asik lagi kalau sambil bersampan…Foto ini diambil waktu pagi jam 6. Indah ya…

Dari pemilik Kafe Monica (aku sempat makan malam di sini) di pusat kota (tepatnya=desa) Maninjau, dia memberi jaminan bahwa Danau Maninjau lebih indah ‘view’ dan kondisi airnya dibanding danau Toba. Nyatanya aku memang betah banget berlama-lama nongkrong di sini, melihat-lihat alamnya yang ‘elok bana’, berenang-renang di tepiannya, menikmati airnya yang hangat.

Selama di sana aku tinggal di Vila Impian, penginapan milik keluarga besar Bapak . Penginapannya yang berlantai kayu, dengan corak bangunan semi tradisional, asik sekali. Vilanya menghadap langsung ke danau berkilau. Beberapa langkah bisa langsung nyemplung ke danau. Menyenangkan. Kalau ngisi waktu di sela acara keluarga, paling asik sambil nongkrong sekedar baca buku, main air, melihat gunung dan desa-desa di seberang atau nontonin orang mancing ikan.

Suasana di desa Maninjau tenang sekali. Cuma sesekali suara motor, karena memang daerahnya relatif sepi (padahal pusat wisata juga). Udaranya segar khas pegunungan. Alamnya, Subhanallah masih asri dan alami. Jangan bandingkan dengan di Jawa, ya. Hutan di sini masih alami belum dijarah menjadi pemukiman atau sawah (jangan sampai deh).

Aku sempat keliling danau sama2 Bapak Ibu dkk. Menurut Bapak, kalau danau ini dikelilingi, jaraknya sekitar 70km. Jadi termasuk luas juga nih danau. Pemandangannya ga perlu ditanya lagi. Sangat-sangat indah dan tenang. Oya, selain Maninjau, aku juga sempat ke Bukittinggi mengunjungi Arvin_161 Jam Gadang, dan ke air terjun Lembah Anai, yang ada di tepi jalan raya Padang-Bukittinggi.

Ini ada foto-foto perjalananku ke sana, bisa dilihat di My Album lengkap dengan keterangannya.

 

No comment »

AKU KENALKAN SAHABAT-SAHABAT JAUHKU!   \(^o^)/

AcehGak kerasa sebentar lagi tepat 1 tahun peristiwa tsunami di Aceh dan Nias.Tragedi 26 Desember tahun lalu menyisakan banyak cerita pilu sekaligus mengharukan. Semua tentang perjuangan hidup-mati dan nilai-nilai kemanusiaan yang mungkin tidak sepenuhnya bisa kita rasakan, karena kita tidak (belum) mengalami bencana sedahsyat itu. Naudzubillaahi min dzaliik.Baiturrahman_tsunamiDalam bencana itu, ada banyak keajaiban yang susah diterima logika yang hingga kini masih menjadi pembicaraan dalam masyarakat. Adalah dengan tetap berdiri tegaknya masjid-masjid di Aceh di tengah hantaman tsunami yang menghancurleburkan bangunan di sekitarnya. Kebesaran Allah SWT ditunjukkan, bahwa rumah yang paling aman adalah rumah tempat manusia berpasrah diri kepada-Nya: Masjid.                                                                                                                                                              Di sisi lain dengan adanya tsunami ini, aku menjalin persahabatan baru dengan tiga orang teman dari Aceh. Ada Andika, Heru dan Andi yang jadi sahabat baruku. Lewat sms dan email aku bisa dengar langsung cerita-cerita baru tentang Aceh, yang sebelumnya nggak pernah aku tahu. Tsunami membuka wawasan baru buatku. Aku mau kenalkan beberapa teman baruku dari Aceh ini.

Dicka Yang ini, paling kanan foto namanya Dika. Bulan kemaren sudah wisuda di Syiah Kuala-Pertanian. Dika orang yang pertama kali aku cari dan aku umumkan di Friendster waktu bencana tsunami baru datang. Alhamdulillah setelah berbulan-bulan tidak ada kabar, Dika selamat dengan keluarganya dan sempat mengungsi di Medan. Lewat Andi dan Heru aku dapat kepastian kabar Dika. Rumahnya di Banda Aceh rusak berat kena terjang tsunami tapi sekarang sudah ditempati lagi.Saat ini Dika bekerja di LSM di Banda Aceh setelah sebelumnya sempat kerja di pedalaman dekat Calang untuk membantu petani-petani di sana.Eroe2

Kalau yang ini namanya Heru. Heru kuliah di arsitektur Syiah Kuala. Heru jadi tempat Dika mengungsi di Lhokseumawe selama kondisi di Banda Aceh masih kacau balau. Asalnya memang dari sana.Heru belum lulus kuliah tapi sudah kerja di Oxfam GB, yang bikin perumahan baru buat pengungsi.

Ada satu orang lagi namanya Andi.Andi pada waktu kejadian tsunami ikut lari menyelamatkan diri sama Dika menghindari bah. Andi sekarang tinggal di Bireun bekerja di sana. Aku ga ada fotonya sih, jadi ga bisa aku kenalkan.

Kalau ada waktu dan uang suatu saat aku bakal berkunjung ke Aceh dan berkenalan langsung dengan mereka (ada yang mau ikuuuut?). Banyak hal yang aku bisa jadikan pelajaran dan membuka mataku tentang negeri di seberang yang berbeda budaya dan kehidupan tapi terjalin sama aku,ya karena friendster ini. Mudah-mudahan Dika,Heru dan Andi bisa pulih dan hidup lebih tenang di Aceh.

No comment »