Menjelang lebaran (lagi!)

Aku terbangun dari tidur ayam yang penuh dengan rapalan doa,”Iyya kaa na’ budu wa iyya ka nastaiin” ketika pramugari dengan suara yang khas ^_^ mengumumkan penumpang untuk mengencangkan ikat pinggang karena pesawat sudah mau mendarat. Di luar pesawat, pemandangan lampu-lampu kota berwarna kuning,muncul berpendar di antara  kegelapan langit.

Pesawat Lion Air mendarat dengan tenang di bandara Juanda baru, Surabaya , pukul 22.20 malam. Membaca berita-berita kecelakaan pesawat di koran dan melihatnya di teve, sekarang bikin aku selalu deg-degan setiap kali naik pesawat.paranoid! Lega sekarang. Mudah-mudahan dengan seringnya kecelakaan pesawat di Indonesia, pilot-pilot dan semua maskapai jadi makin ekstra hati-hati mikirin keselamatan penumpang. Amin amin…

Aku pulang berkumpul sama saudara-saudara dan ponakan-ponakanku di Surabaya. Hari ini tarawih terakhir menjelang Idul Fitri. HAH…leganya memasuki ruangan pengambilan bagasi pesawat. Setelah mengambil tas, aku dan Bapak-Ibu keluar ke anjungan penunggu.

Dede, adikku tersenyum menunggu di luar. Udara Surabaya (nggak tau kenapa menurutku aromanya khas..beda sama Jakarta.heheheh) langsung menyergap, angin yang tumben dingin…bertiup mengiringi kedatangan adikku. Cium, peluk…

Hari libur, seminggu (lumayan) sudah mulai…bahagia…

Comments (1) »

siasat

Sabtu lalu, seperti Sabtu-sabtu yang lain.Mengajar dari pagi hingga petang dengan istirahat 15menit saja. Tidak ada yang istimewa. Jam menunjukkan pukul 14 siang, kelas no5, dengan AC sejuk 16′C tempatku mengajar di Gita Svara Tebet diketuk pelan pintunya. Kepala kecil berambut ikal sebahu nongol dari balik pintu.
"Kak Arvin? sudah jam dua ya?". Namanya Zane, anak kelas 4 SD yang sudah hampir 6 bulan setia les vokal sama aku. Dari balik kacamatanya, Zane kelihatan  semangat dan penuh harap.
Aku mengangguk dan tersenyum. Aku sudah duduk di depan piano upright hitam sejak pukul setengah 8 pagi.*pegel juga*.
Zane masuk ke dalam ruangan. Ternyata ngintil di balik badannya, Vashti, adik Zane gadis kecil lain muridku, umurnya 8 tahun dan sudah setahun lebih les vokal sama aku. Rambutnya yang panjang dan lurus bikin kelihatan manis wajahnya.Vashti sudah selesai les dengan aku jam 13.30 tadi. Seperti biasa Vashti duduk menunggu kakaknya selesai les vokal sama aku.
"Kak Arvin aku mau diajarin lagu Kembali ke Sekolah dong.AKu suka banget lagu itu.." rengek Zane.
"Boleh sekali-sekali minta lagu tapi lain kali Kak Arvin yang pilih lagunya ya.." jawabku.  
Zane berdiri di sebelah kiriku. Aku memulai latihan vokal rutin untuk anak-anak.
"do re mi fa sol fa mi re do…lalalalalalalalala…"
aku mendengus sambil memainkan tuts piano. Bau apa ini? Bau bawang bombay menyengat. Vashti lagi asik duduk sambil membuka-buka buku kakaknya. Zane mangap-mangap mengikuti pola latihan vokal.
"oh, ini toh sumbernya?" huhuhu…aku ngga suka bau mulut orang selesai makan bawang bombay. Apa aku cukup betah 30 menit ke depan dalam dekapan aroma ini? Kelas ber_AC bikin udara yang bau berputar-putar di dalam kelas.Aku berpikir..

"Zane habis makan siang yaa??" kataku sambil memainkan tuts piano.
Zane menghentikan menyanyinya…
"Iya…kok Kak Arvin tahu sih??" matanya berbinar. "Tahu dong."
"Tadi cuma makan kue aja.." jawab Zane.
"Masa sih? Tadi siang makan siangnya apa?"
Vashti menghentikan membaca buku catatan Zane dan memandang aku dengan penuh selidik.
"Ooo..tadi makan Hoka-Hoka Bento sama Mama"…
"Hmmm..pantas saja bau bawang.." kataku dalam hati.
Aku mengambil permen karet Xylitol dari tasku.
"Ooo, Kalau habis makan, makan permen karet ini. Udah pernah coba?"
Zane melihat permen karetku.Tampaknya dia belum pernah makan ini. Diambilnya satu butir, dan sebelum dimakan,"Kak Arvin, memang ngga apa-apa nyanyi sambil makan permen?"
"Oh, engga apa-apa soalnya kalau habis makan terus makan permen itu jadi segar. Lagian Kak Arvin mau sekalian mengajarkan pengucapan yang dibantu dengan mengunyah permen…" jawabku taktis.Zane pun mulai mengunyah permen.
"Vashti mau juga?" tawarku ke Vashti.
Vashti masih melihat dengan penuh selidik.Permen karet dari aku diambilnya satu terus mengunyahlah dia.
"Kak Arvin kok tahu sih Zane baru aja makan?" tanya Vashti.
Zane melanjutkan latihan vokalnya, dan sambil memainkan piano untuk Zane, aku sempat gelagapan berpikir tentang jawaban yang tepat.
"Hmmm.kak Arvin bisa tahu dari ekspresi wajah Zane yang berbinar-binar.." jawabku sambil menggerakkan tangan di sekeliling wajah untuk menjelaskan maksudku.
"Oya?" jawab Zane sambil tersenyum senang. Vashti kelihatan lega, sudah memperoleh jawaban yang sedikit aneh tapi masuk akal.
Kemudian keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Vashti membaca buku, dan Zane latihan vokal dengan iringan aku. Aroma bawang bombay sudah berganti mint segar. Siang itu ruangan kelas no5 tidak jadi bikin aku pusing.

Comments (10) »

tiap malam jumat

Lampu di dalam rumah sudah gelap waktu mobil APV kopisusu yang aku kendarai dari Bogor mendarat di depan pagar..suasana sekeliling rumah sunyi sepi. Jam sudah menunjukkan pukul 12 kurang. Langit sedang berawan dan udara bernyamuk terasa cukup sejuk untuk ukuran Jakarta yang panas.

Pintu dibuka sama penjaga rumah."Ibu sudah tidur, Ndi?" tanyaku dengan nada lelah sama Andi, si penjaga itu."Sudah tidur mas, dari tadi.".Aku mengangguk. Aku berpikir,"aman nih, bisa masuk ke kamar dan segera tidur!".
Aku buka pintu masuk ruang tengah pelan-pelan. Krikk..kruikkk…berderit sedikit. Aku sedikit memicingkan mata dan menggigit bibir karena cemas mengganggu kesunyian rumah menjelang tengah malam. Ruang tengah sekaligus ruang makan nampak temaram.

Tumit diangkat..tiktiktiktiktiktik…berjalan berjingkat-jingkat melewati ruang makan menuju tangga ke lantai dua.Kamarku ada di sana.
Aku menengok sebentar ke tudung saji putih centil di meja makan. Tampaknya makan malam di dalamnya sudah melambai-lambai menunggu disantap.
Rasa penasaran membuat aku berjingkat-jingkat membuka tudung saji."Ibu masak apa ya malam ini?".
Aku buka tudung saji pelan-pelan….

GRUDAK!!
pintu kamar Ibu di seberang meja makan terbuka…
halah halah. Aku sedikit meloncat. Jantung dag dig dug karena terkejut.
"Ibu…bikin kaget!" kataku sambil menyambut Ibu. Ibu tersenyum.
Aku sungkem tangannya, peluk dan cium pipinya.Dalam hati,"yahhh…gagal deh.."

Rambut Ibu kelihatan kusut. Wajahnya bersungut-sungut kelihatan baru bangun tidur.
"Kok datang ngga  bilang-bilang?" tanya Ibu dengan wajah ngantuk.
"Takut ngganggu, Bu," jawabku.
"Udah makan belum?" tanya Ibu sambil membuka tudung saji.
"Ibu cuma masak ini," kata Ibu sambil menunjuk sayur sop dan tempe.
Ibu duduk di depan meja makan sambil membuka tudung saji. Itu pertanda aku harus ambil piring untuk makan malam menemani Ibu cerita.
Dalam hati sebenarnya cape sekali. Tapi aku tahu Ibu membela-belain buat bangun untuk ketemu aku pasti ada sesuatu yang pengen disampaikan.
"Iya, Ivin makan sedikit ya aja, Bu..sudah cape" kataku sembari mengisi piring dengan nasi panas dari rice cooker.
Aku temani Ibu (padahal Ibu juga yang temani aku makan) sembari mendengar curhat Ibu tentang Bapak dan keluarga.
Ini sudah jadi ‘tradisi’ setiap malam aku datang dari Bandung atau Bogor. Sebetulnya aku sendiri cape badan setiap kali sampai di rumah.
Tapi aku tahu Ibu sudah cukup lelah menahan beban masalah keluarga. Di rumah Jakarta, tinggal Bapak, Ibu dan pembantu saja. Aku datang tiap pertengahan minggu dengan kegiatan penuh dari pagi sampai malam larut. Adik-adik dan kakak-kakakku bermukim di berbagai kota. Satu-satunya yang rutin mengunjungi ya cuma aku.

Aku makin bisa memahami bagaimana sepinya orangtua ditinggal anak-anaknya yang udah beranjak dewasa. Aku sendiri suka kasihan melihat Ibu yang sering sendirian karena Bapak juga wira-wiri dengan pekerjaannya.
Berdosa ngga ya aku setiap malam jingkat-jingkat masuk rumah supaya bisa masuk kamar dan langsung tidur.
Tapi yang perlu tahu, ….80 persen usahaku selalu gagal karena insting Ibu selalu kuat untuk tahu anaknya sudah datang atau belum..bahkan waktu aku sudah berada di dalam kamar sekalipun. HEHEHEH
Mungkin ini salah satu bentuk bakti aku sama Ibu untuk menemani dan mendengar, seperti yang selalu Ibu lakukan waktu aku kecil sampai kuliah…

Comments (3) »

menuju Korea

Waktunya sudah tiba. Musicanova chamber choir, grup afiliasiku berangkat juga ke Korea untuk mengikuti kompetisi di Busan, setelah melalui 2 rangkaian konser di Jakarta dan Bandung minggu lalu.

Hari ini berangkat dari Bandung jam 9 pagi seperti untuk boarding dan terbang jam 3 sore menuju Singapura dari Jakarta.

Perjalanan ke Korea terasa jauh karena melalui transit 2 kali di Singapura dan Seoul. Hari ini berangkat dari Singapura malam jam 10 sampai di SEoul masih harus transit dan sampai di Busan siang.

Kompetisi (sebagai penyanyi nih) dua hari lagi. DOAKAN YA!

Comments (2) »

A beautiful Eid Mubarak

Kereta Lodaya siang dari Bandung menuju Yogyakarta, menembus sawah-sawah yang menguning dan kadang mengering di dataran rendah Kebumen, Jawa Tengah.Pohon kelapa berjajar rapat membentuk pulau-pulau nyiur di tengah hamparan keemasan padi di akhir musim kemarau, tertimpa sinar matahari sore. Langit berawan putih cerah berlatar langit biru terang.
Aku di tepi kaca kereta dari kursi no 13A, memandang takjub keluar jendela.Memegang buku non-fiksi tentang Imam Mahdi, buku menarik yang sudah setengah aku baca itu gak mampu memaksa aku untuk kembali menelusuri kajian di dalamnya.
Pemandangan di luar akan keliahatan biasa kalau aku gak melihat iringan sepeda motor maha banyak yang menyusuri jalan-jalan rindang. Bersusulan dan berkejar-kejaran timbul tenggelam di antara pohon-pohon, sawah-sawah dan rumah-rumah khas pedesaan Jawa. Hari itu hari Kamis, 2 hari sebelum Idul Fitri 2007.
Dari jauh kelihatan kalau motor-motor pemudik itu membawa beban berat: penumpang yang melebihi kapasitas duduk atau  barang bawaan yang melebihi kapasitas daya angkut. Kadang lucu dan mengkhawatirkan. Beberapa kali rombongan itu melintas sejajar kereta, menjauh dan kadang bersimpangan dengan Lodaya yang melenggang dengan mulus memecah sawah, desa dan dataran rendah Jawa Selatan.
Hatiku tergetar, membayangkan tujuan pengendara ‘motor gila’ itu bersusah payah kembali ke tempat asal mereka di berbagai pelosok Jawa Tengah dan bahkan Jawa TImur.Menempuh ratusan kilometer dari Jakarta, menembus kemacetan luar biasa dan melelahkan mereka punya satu tujuan: kembali berkumpul bersama keluarga merayakan Idul Fitri.
Aku tahu dan bisa ikut merasakan kerinduan untuk berkumpul dengan keluarga, orang-orang terdekat dan disayangi itu, karena aku bertujuan sama dengan mereka.
Meskipun cara dan sarana menuju ke sana berbeda, tapi sekali lagi:tujuan sama.

Kereta berhenti di YOgya. Aku turun dan dijemput Dede,adekku, yang sudah berletih-letih nyetir dari Surabaya menuju Magelang via YOgya. Menyusuri jalan ke Magelang lewat maghrib, beberapa masjid sudah mengumandangkan takbir. Beberapa merayakan lebaran Jumat, tapi keluarga besar Yangkung sepakat ikut pemerintah merayakan hari Sabtu. Semakin mendekat ke Magelang, semua bayang-bayang indah muncul saat melewati tempat-tempat aku melewati masa kecil yang tidak banyak berubah.

Shalat Idul Fitri di Masjid Jami’ Magelang juga selalu meninggalkan kenangan. Mendengar khutbah yang selalu menarik aku simak, beduk besar yang dipukul selesai shalat, berdesak-desakan keluar di tengah hamparan koran bekas dan wajah-wajah tersenyum bahagia.Dan yang paling aku suka, menuruni jalan samping Masjid ke parkiran mobil di tepi rumah-rumah tua khas Magelang dengan pemandangan di kejauhan sawah-sawah menguning di kaki Gunung Sumbing. Selalu tampak jelas  waktu pagi sesudah  shalat Ied. Aku nggak pernah bosan memandang dan menghirup angin pagi dari arah sawah itu setiap selesai shalat Ied.

Tahun lalu momen Idul Fitri-ku terlewatkan karena aku menuntaskan kewajiban bersama BMS ke berbagai negara. Tahun ini meskipun waktunya sempit momen Idul Fitri ngga mungkin aku lewatkan, biarpun dengan sangat menyesal aku ga bisa menikmati bersama Yangti yang meninggal bulan Juni lalu.
Hari pertama selalu diisi dengan tangis-tangisan apalagi ini adalah tahun pertama kami berkumpul tanpa Yangti tercinta. Setelah shalat Ied, kami sekeluarga menuju pasarean di bukit di Blabak, berziarah di makam Yangti ber-yasin dan memanjatkan doa sama-sama untuk Yangti. Suram dan sedih karena semua pada nangis.
Di acara sungkeman di rumah Yangkung setelah dari pasarean, aku sempat taruhan dan bisik-bisik bikin sayembara sama sepupu-sepupuku,"siapa yang bisa tahan ga nangis waktu sungkeman dengan semua bakal dapat hadiah dari Bang Ivin!". Pemenangnya adalah…bukan aku! karena aku ngga tahan untuk nggak nangis minta maaf apalagi udah berhadapan dan bersimpuh di lutut Ibu (tahu sendiri kan). Dua orang sepupuku yang paling tidak berperasaan berhak atas 2 kaleng Pringles dari aku.
"makasih Bang Ivin," kata mereka dengan wajah sedikit kecewa.Heheheh…
Hari kedua lebaran diisi dengan berkumpul ke keluarga lebih besar dari pihak Yangkung di Blabak, luar kota Magelang untuk mengenal dan bersilaturahmi dengan saudara-saudara Yangkung yang alhamdulillah masih banyak dan masih sehat-sehat meskipun sudah uzur.

Malam terakhir di hari lebaran kedua, aku asyik mendengar cerita-cerita dari Yangkung di ruang tengah keluarga. Aku dan sepupu-sepupu duduk di lantai alas tikar, berapat-rapat tidur-tiduran sambil nyimak Yangkung yang duduk di sofa empuk. Ceritanya tentang masa kecil Ibu dan tante-tante waktu kejadian G30S/PKI juga cerita perjuangan yangkung menghadapi situasi mencekam selama zaman PKI. Ditimpali cerita-cerita dari tante-tante (tentu dalam bahasa JAWA!) aku dan sepupu-sepupu cukup tercekam dan bisa ikut merasakan situasi waktu itu.

Sayang aku ngga bisa berlama-lama menikmati suasana kekeluargaan yang jarang aku dapat selama di Bandung atau Jakarta (sibuk mulu!). Besoknya (hari ini aku nulis) aku udah harus ada di Bandung untuk latihan persiapan Musicanova ke Korea.
Huhuhu…

Hmmm…Idul Fitri buatku selalu menjadi momen yang menggetarkan dan
mengharukan.Terlepas dari nilai-nilai sakral agama, tradisi mudik
seperti ini semakin tahun semakin membuka pikiranku tentang pentingnya
menjalin silaturahmi, mengenang bersama-sama masa lalu bersama
keluarga, mendengar petuah dari orang yang dituakan di keluarga,
bertukar pikiran tentang problem-problem pribadi bersama
orang-orang terdekat, dan yang terpenting berbagi kebahagian dengan
semua. Keluarga itu penting.
Senang bisa menyaksikan tumbuh, berkembangnya semua sanak sodara dan ternyata ini benar-benar menginspirasi aku untuk ikut maju dan sukses. Untuk selanjutnya memacu aku berjanji setiap tahun kembali berkumpul untuk membagi kebahagiaan buat semua.

No comment »

Pagi di Kobe

"NET NOT NET NOT!!!", hihihi… ^o^ Bunyi yunik dari alarm bangun pagi udah berbunyi. Seperti biasa hari musim panas di Jepang, 27 Juni matahari sudah sibuk di atas angkasa jam 6.45 pagi.
Aku kebangun dengan sedikit rasa geli denger suara alarm itu. "Aaaah…". suara berat Isao terdengar glissando ke bawah, mengeluh sebal dan lalu,"Gubrak!" bunyi  alarm dimatikan dengan tangan. Aku dan Isao kembali bobok.Hihihi..
Semalam aku dan Isao baru tidur sekitar jam 1 lebih, setelah ngobrol sembari lihat foto-foto Isao di Hokkaido lewat laptop celeronnya.
"NET NOT NET NOT!!!" alarm jam Isao bunyi lagi. Dengus nafas Isao terdengar sebal, dan kemudian, "Ohayo Gozaimaaaasu", suara berat Isao yang kartun-style itu menyapa aku untuk bangun tidur. Aku masih bergelimpangan di kasur lantai khas Jepang di kamar Isao yang minimalis. Isao terdengar berjalan membuka pintu rolling dan menuju kamar mandi. "Zwingggingggngingg…". Itu suara cukur jenggot otomatis. Aku menggeliat sambil mikir,"kalau di sini bangun pagi kok semangat, ya?". Ya eyalah, lah hari ini bangun mikirnya cuma mau jalan-jalan!

Aku bangun tidur dan segera siap-siap, memeriksa tas punggung kecil yang aku isi buku, peta, sedikit makanan kecil dan kamera digital. Di ruang tengah yang menyatu dengan dapur, Isao sibuk memanggang roti yang ditumpuki keju di atasnya. "Nggak papa ya, sarapan kita cuma gini," (in English, please). "Ya elah ngga papa, lah" kataku (in English) sambil nyengir. Aku dan Isao duduk di depan meja makan, sarapan beralas tatami sambil lihat TV Jepang yang aku kagak tau artinya apa yak. "please, kita berangkat jam 7.30 ya". Kata Isao habis kita melahap sarapan plus teh jepang. Aku udah siap berangkat. Pagi itu aku ngga mandi (hihihi). Cuci mukak aja dan lap lap badan dikit karena aku semalam udah mandi.Aku belum tau kebiasaan orang Jepang mandi. Isao bilang pagi ini nggak mandi, jadi aku ngerasa ngga enak kalau aku mandi kawatir Isao ngehemat air.
Aku hari itu harus pergi keluar apartemen sama Isao pagi-pagi. Kami berangkat jam 7.30 teng karena Isao harus menuju Boy’s Senior High School-nya yang masuk jam 08.30. Aku sendiri udah janjian di stasiun dekat apartemen Isao untuk ketemu sama Seiko dan Akemi. Diantar mobil Isao dengan iringan gitar modern yang up beat, aku menuju stasiun.
"Enjoy your time!" kata Isao sambil pergi, setelah aku sampai di stasiun. Aku dadah basa-basi dan kemudian membeli tiket seharga 160 yen untuk arah kota Kobe. Isao tinggal di pinggiran.
Stasiun di Jepang seru sekali. Suasananya crowded tapi teratur.Semua orang dengan pakaian macam-macam yang rapi: baju kantor berjas, baju sekolah, bergegas menuju kantor dan dengan rapi mengantre naik kereta.
Seiko pagi itu datang telat ke stasiun. Tapi Seiko memang udah ijin bilang sebelumnya. " Maaf ya.aku hari ini jadi orang Indonesia…" kata Seiko waktu turun dari kereta arah Takarazuka (kota tempat tinggalnya) dengan wajah aroma kasur baru bangun tidur. Kita udah pernah membahas masalah jam karet Indonesia dan rupanya Seiko pandai mengadaptasi itu waktu ketemu aku di Jepang.Hehehehh..
"Nggak papa, di sini giliran aku yang on-time kaya orang Jepang ya," jawabku. Seiko ketawa.
Akemi datang dengan kereta selanjutnya. Memakai topi turis yang sering aku lihat dipakai sama orang Jepang kalau ke Indonesia, dan dadah-dadah dari jauh bikin Akemi keliatan lebih segeran ala Jepang.
Kami bertiga sudah planning hari itu untuk menuju salah satu pantai berpasir di Kobe, dan mengunjungi place of interest kota yang pernah kena gempa dahsyat tahun 1995 ini. Pagi terakhir jalan-jalan. Aku senang melewatkan waktuku di Kobe.

No comment »

Setelah semua pulang

Pagi tanggal 26 Juni jam lima ’subuh’ waktu Jepang. Ini musim panas di Jepang dan masih masuk waktu dengan siang terpanjang sepanjang tahun. Kamar hotelku yang dijulukii  ‘Cocroach House’ sama Hiroko saking mungil dan busuknya, sengaja aku buka tirainya. Matahari sudah cekikikan karena dari www.weather.yahoo.com aku tahu matahari di Osaka saat itu terbit jam setengah lima pagi! 
Kamarku no 838 (nomor cantik) diketuk sama Mbak Nana. "Kita berangkat dulu ya, selamat bersenang-senang di Jepang. Sampai ketemu di Indonesia," kata mbak Nana sambil menyerahkan titipan buat Ibu Yenny owner Gita Svara. Aku masih setengah teler karena sebelumnya sampai jam 2 pagi masih upload foto pake internet gratisan di lobi yang aksesnya super cepat itu. Aku terima titipannya n kembali tidur.
Jam 8 aku terbangun dan baru sadar kalau semua anggota BMS sudah berangkat karena mereka harus berangkat ke bandara pagi-pagi untuk mencegah rombongan terlambat check in. Aku cuma melongo di kamar dan merasa kehilangan.
Aku merasa agak cemas sekaligus semangat karena ini hari pertama aku jalan sendiri. Jepang agak sulit buatku jalan-jalan karena struktur transportasinya agak rumit dan huruf kanji bikin aku puyenk. Sampai tengah hari aku harus isi waktuku sendiri. Semua teman Jepang lagi kerja. Dan Seiko salah satunya, baru bisa free sesudah jam makan siang. Aku ketemu dengan Seiko di kota tua Kyotp, 40 menit perjalanan dengan kereta dari Osaka.
Hari itu, setelah pamit dengan K Avip dan Ipul yang juga eksten di hotel, aku menggeret tas 25kg ku dan satu ransel penuh partitur menuju stasiun untuk naik kereta ke central Osaka di Umeda. Di sana aku titipkan tasku di loker otomatis seharga 600 yen/24 jam supaya aku ga repot jalan-jalan.
Aku sangat bersemangat! Aku susuri wilayah sekitar Umeda di Osaka, mengunjungi gedung tinggi (namanya lupa) yang jadi salah satu ikon Osaka dan menikmati lalu lalang orang yang bergegas. Khas Jepang.
Menuju Stasiun Kyoto dengan bekal petunjuk tertulis dari Yuji dan Seiko cukup mempermudah aku sampai di sana.
Aku sempat menunggu lama sebelum akhirnya ketemu Seiko. Hpku ga bisa dipakai (jangan pakai Mentari di Jepang!) jadi agak repot juga. Menjelang sore Seiko menemani aku jalan-jalan menyusuri bekas ibukota Jepang ini. Aku ngga sempat menikmati banyak tempat di Kyoto karena keterbatasan waktu. Tapi menikmati ritme hidup orang Jepang yang lebih rileks di kota kebanggaan Seiko ini bikin aku merasa bersyukur memilih untuk eksten bersama teman-teman Jepang dibandingkan belanja ke Hongkong seperti teman-teman BMS lain.
Aku dan Seiko sepanjang perjalanan wisata kami, banyak bercerita tentang segala hal dalam keterbatasan bahasa Inggris kami. Malamnya di stasiun Osaka aku ketemu dengan anggota Asiaccatura lainnya, Akemi, dan janjian makan malam bareng sebelum berangkat ke tempat nebengku di rumah Isao di pinggiran Kobe. Isao dan Yuji menjemput kami di stasiun dan menuju apartemennya yang mungil. Hari itu kami tutup dengan ngobrol berempat sampai tengah malam sebelum akhirnya Seiko diantar Isao menuju stasiun untuk naik kereta terakhir ke Takarazuka, kota tempat tinggal Seiko di pinggiran Osaka.

Comments (1) »

di Jepang

Halllo,

ini hari pertama yang cukup panas di Kanazawa! Sampai tanggal 28 Juni aku bakal nangkring di Jepang…keluyuran menyanyi di Kanazawa dan Nagoya, terus ke Osaka, Kyoto dan Kobe.

]Semalam nyampe di hotel jam 2 pagi setelah terbang 8 jam ke Jepang tidak termasuk transit di Hongkong. Cape juga karena pesawat Cathay Pacific bangkunya agak sempit biarpun selimutnya anget (tahu kaaan selimut nasibnya gimana.hihih).

Ternyata rombongan kami Batavia Madrigal Singers mendarat bukan di Tokyo tapi di Nagoya. Nagoya lebih dekat jaraknya dari Kanazawa, 4 jam perjalanan dengan bus ke arah timur laut.

Hari ini belum konser, jadi sepanjang siang setelah tidur cukup ada kesempatan buat jalan-jalan sebentar lihat kota Kanazawa yang kecil. Foto-foto hari pertamaku bisa diunduh di www.arvinzen.multiply.com.

Hmmm cuaca di Jepang cukup panas, biarpun anginnya sejuk dan kalau malam tetap seperti di Bandung. Lumayan lah ga perlu jajaketan seperti pas musim semi kemarin. Tadi BMS sempat latihan dari jam 5 sampai jam 10 malam di gedung konser yang nyaris mirip dengan concert hall di Budapest, lengkap dengan orgel-orgelnya. Koks bisa ya, mirip banget gitu?

Besok siap-siap konser akapela (lengkap dengan tarian.hadoh) di Concert Hall Kanazawa dan latihan gabung dengan orkestra Kanazawa yang main musiknya nyaris sempurna itu…

Oya, hari ini ketemu lagi dengan Hiroko, geng Asiaccatura, yang tambah kurus kemurus tapi tetap jenaka, dan sebentar lagi dengan teman-teman Jepang yang lain..hah..menyenangkan sekali..

Kalau pas gini, lupa sejenaklah apa yang harus dipersiapkan buat grup-grup di Indonesia dan murid-muridku tersayang (heheheh) di Bandung dan Jakarta..

Oya  buat teman-teman yang mau ke Jepang suatu waktu, bawalah hape 3G dengan provider IM3 atau XL, dijamin bisa ber-sms-an di Jepang. Menyesal kali aku ini, baru tahu kalau kartu-kartu itu bisa dipakay sesudah nyampe Jepang. Jadi hp N73 manyun aja cuma dipake foto-foto.

Ya udah, aku istirahat dulu. Sekiyan kabar kabur dari Kanazawa… 

Comments (4) »

Menjelang ke Jepang

Sebentar lagi aku kembali menikmati indahnya pemandangan awan gemawan dari atas langit.
Alhamdulillah Allah membiarkan aku boleh menikmati salah satu ciptaan yang paling aku kagumi: perpaduan langit, bumi dan awan dari atas pesawat udara. Selasa pagi besok perjalananku dengan Cathay Pacific via Hongkong menuju Jepang selama 10 hari. Sekarang ini aku pergi bukan sebagai pemimpin tapi sebagai penyanyi (wow leganya…heheh). Dengan Batavia Madrigal Singers ini kami bakal berkonser dengan Kanazawa Orchestra, salah satu orkestra terbaik di Jepang ke beberapa kota: Nagoya dan Tokyo, selain berkunjung ke Kyoto dan Osaka.

Sebenarnya berat juga sih meninggalkan banyak rutinitas dan kewajiban selama di Indonesia, apalagi baru 2 bulan lalu aku baru datang dari Hongaria dalam rangka memimpin Agria Swara IPB di lomba paduan suara internasional yang berakhir mengesankan itu. :). Banyak pe-er yang harus dikerjakan, membayar hutang-hutang mengajar, memulihkan citra pembolos di mata murid dan orangtua murid (hihihi…) dan mempersiapkan  PS Unpad  menuju Kompetisi Paduan Suara Unpar Agustus akhir nanti….dan yang paling penting..memulihkan keuangan..h.ahaha..
Tapi tawaran asyik BMS ke Jepang dari akhir tahun lalu nggak kuasa aku tolak. Sebenernya kali ini situasi keuangan nggak begitu indah, karena iuran BMS buat ke Jepang nggak se-enteng akhir tahun lalu waktu ke Makau dan Perancis (tiga minggu bow). Kali ini serasa dikejar-kejar debt collector aja karena perkembangan urunan yang membengkak membikin anggota BMS mabok tujuh keliling.
Hmmm,tapi detik-detik terakhir ini…berkat amalan doa Al-Insyirah yang indah itu, yang rajin aku baca setiap shalat,  terbukalah banyak jalan rezeki dari Allah, salah satunya kok datang ngga disangka-sangka dari owner Gita Svara, Ibu Yeni. Baru tadi sore aku sama Mbak Nana pamitan ijin ngga ngajar, Ibu Yeni ‘titip’ bingkisan kertas yang isinya masing-masing…100 dollar US.
Bener lho…Aku sampai bingung harus ngomong apa karena kebaikan hati yang mendadak ini. O…ekstenku ke Jepang jadi makin nyaman nih..heheh. Lumayan mengurangi beban debt collector BMS yang agak mencekik itu..

Oya, penghujung kegiatanku dengan BMS nanti, aku bakal berkunjung dan stay sejenak di rumah Isao, di pinggiran kota Kobe. Isao ini salah satu teman terbaikku selama 2 kali ikut Asian Youth Choir di Jepang. Dia berbaik hati dan menerima dengan tangan terbuka kunjunganku ke sana. Bersama Seiko dan Yuji, teman AYC juga, aku bakal diajak jalan-jalan ke tempat-tempat menarik di sekitar Kobe. Belum tau sih mau ke mana. Tapi aku akan menikmati sekali jalan-jalan ke tempat sobat-sobat Jepunku ini.
Foto-fotonya seperti biasa aku share di Multiply sesudah pulang nanti. Di Jepang karena sistem telekomunikasinya beda sama Indonesia, aku ga bakal bisa terima tilpun maupun sms. Alhasil kalau mau berkontak ria mungkin harus tilpun dari tilpun yumum atau pake internet yang koneksinya ekstra cepat tapi mahal. Lihat-lihat nanti ya…

Comments (5) »

Konser sudah selesai

Konser Bandung, 3 Juni 2007 dari rangkaian Earth’s Rhapsdoy sebagai konser tahunan PS Unpad 2007 sudah selesai. Yang aku rasakan macam-macam. Setiap tahun ’sensasi’nya memang berbeda-beda karena komposisi orang dan nuansa lagu-lagunya ikut berpengaruh.

Konser di Bandung alhamdulillah terasa lebih rapi dan lebih baik, karena insiden hari Jumat itu *aku pikir* jadi pemacu teman-teman Unpad untuk lebih sungguh-sungguh di hari Minggunya.
Awal latihan siang Minggu itu aku pimpin dengan perasaan hati seperti hari Jumat. Aku rasa saat itu aku menumpahkan kekesalan dan kekecewaanku pada awal latihan. Lumayan terobati berangsur-angsur, setelah melihat kesungguhan penyanyi dan  juga sikap dari teman-teman yang tidak ingin mengulang kekurangan di konser Jakarta hari Minggu sebelumnya. Di akhir latihan (GR) aku mengungkapkan perasaan dan permohonan maafku untuk segala ketidaknyamanan sepanjang siang dan hari-hari sebelumnya.

Tapi waktu masuk panggung di permulaan konser, aku sekali lagi harus kecewa, waktu melihat sangat sedikitnya jumlah penonton yang hadir di konser. Dari kapasitas 300 (bener ngga ya) kursi yang terisi kurang dari 1/4nya. Memang penonton nambah dari waktu ke waktu tapi jumlahnya tidak banyak untuk ukuran ruangan yang besar. Konser jadi kerasa sepi. Terlepas dari apa yang sudah diusahakan, aku sangat menyayangkan ketidaksigapan panitia dalam mengurus konser kali ini–> terutama masalah publikasi.
Teman-teman penyanyi selama latihan-latihan terakhir sebelum konser sudah berada dalam tekanan dari aku untuk menyanyi dengan maksimal.Ternyata semua tidak terbayar dengan jumlah penonton yang sedikit. Semua penyanyi tentu saja berharap ditonton oleh banyak orang. Penyanyi dan aku sendiri pengen dihargai dan diapresiasi, sesuai dengan yang sudah kita usahakan selama latihan.
Ini perlu jadi bahan renungan dan pelajaran buat pengurus dan panitia agar bersungguh-sungguh (terutama belajar dan mendengar dari banyak orang yang lebih tahu), supaya konser atau acara-acara PS Unpad di tahun-tahun mendatang lebih didengar dan diapresiasi oleh banyak orang.

Pesanku yang lain dan tidak kalah penting untuk kegiatan-kegiatan ke depan:
manfaatkan waktu sebaik-baiknya dan jangan pernah mempermainkan waktu. Rasanya cuma PS Unpad yang bisa latihan sampai jam 1 malam karena kita mengkonsistenkan masalah waktu ini tapi pada akhirnya yang rugi tetap kita semua. Jam latihan tetap efektif (karena strict 3-4 jam sekali latihan mulai jam  berapa pun), tetapi banyak waktu dan energi yang terbuang untuk menunggu. Padahal dalam masa menunggu latihan itu (tepatnya menunggu teman-teman lain datang sesuai kuota), kita bisa melakukan banyak hal dengan lebih bermanfaat misalnya belajar, kursus, mengerjakan tugas dan lain-lain.

Yang terakhir:
Unpad perlu belajar organisasi lebih sungguh-sungguh, dengan mengikuti seminar tentang organisasi, pelatihan atau studi banding ke universitas/unit kegiatan lain.
Krisis organisator handal  di PS Unpad terasa sekali dan ini bisa menghambat kemajuan kelompok ini. Dalam tahun-tahun terakhir beberapa program besar PS Unpad yang gagal salah satu faktornya karena kurang kuatnya lobi dan komunikasi dengan pihak mitra kita (lembaga,penyandang dana dsb).

Konser kemarin lebih baik dari konser di Unpad, tapi rasa tidak puas tentang hal-hal di atas bikin aku punya sedikit kesan yang tidak nyaman pada konser tahun ini.
Aku khawatir kalau kita tidak berubah, KPS bulan Agustus akhir nanti (3bulan lagi!) menuai hasil yang tidak maksimal (naudzubillaahi min dzaliik).
Mudah-mudahan semua kekurangan yang ada bisa jadi bahan evaluasi buat PS Unpad ke depan.

Comments (2) »